Hikmah dan Hukum Puasa Sunah yang Dibuka di Siang Hari
Sunday, 15 March 2026
mimbar
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ
Dari Aisyah RA, dia berkata, "Rasulullah SAW mengunjungiku pada suatu hari, lalu bertanya, 'Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dimakan)? Kami menjawab, Tidak.' Rasul berkata, 'Kalau begitu aku berpuasa saja' Lalu beliau mendatangi kami pada hari lain, lalu kami katakan kepada beliau, 'Ya Rasulullah! Kami diberi hadiah berupa hais'.' Beliau berkata. 'Perlihatkan kepadaku, aku sejak tadi Subuh telah berpuasa (sunah).' Kemudian beliau memakannya." {Muslim 3/160}
1. Makna Umum Hadis
Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Muhammad suatu hari datang ke rumah Aisyah dan bertanya apakah ada makanan. Ketika dijawab tidak ada, beliau berkata bahwa beliau akan berpuasa.
Pada kesempatan lain, beliau juga datang dalam keadaan sudah berniat puasa sejak pagi, tetapi ketika ada makanan yang diberikan sebagai hadiah, beliau memakannya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan adalah puasa sunah, bukan puasa wajib.
2. Dalil Bolehnya Niat Puasa Sunah Setelah Subuh
Hadis ini menjadi dasar bahwa:
Puasa sunah boleh diniatkan setelah Subuh, selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa seperti makan atau minum.
Hal ini berbeda dengan puasa wajib seperti puasa Ramadhan yang harus diniatkan sejak malam hari.
Para ulama fiqih menjelaskan bahwa selama seseorang sejak Subuh belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa, maka ia boleh berniat puasa sunah di pagi hari.
3. Bolehnya Membatalkan Puasa Sunah
Hadis ini juga menunjukkan bahwa puasa sunah boleh dibatalkan, terutama jika ada sebab yang baik seperti:
1. menghormati tamu
2. menerima hadiah
3. menjaga hubungan sosial
atau karena kebutuhan tertentu
Ketika Rasulullah SAW mengetahui ada makanan hadiah berupa hais (makanan dari kurma, mentega, dan keju), beliau memilih untuk memakannya meskipun sebelumnya telah berniat puasa.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunah memiliki kelonggaran dibanding puasa wajib.
4. Hikmah Hadis
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari hadis ini antara lain:
1. Kemudahan dalam Syariat Islam
Islam tidak memberatkan umatnya. Puasa sunah diberikan kelonggaran sehingga seseorang dapat menyesuaikan dengan kondisi.
2. Mengutamakan Adab Sosial
Menerima makanan hadiah dan menjaga hubungan baik dengan orang lain juga merupakan nilai penting dalam Islam.
3. Fleksibilitas dalam Ibadah Sunah
Ibadah sunah bersifat melengkapi ibadah wajib, sehingga pelaksanaannya memiliki ruang kelonggaran.
5. Kesimpulan
Hadis ini mengajarkan bahwa:
Puasa sunah boleh diniatkan setelah Subuh selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Puasa sunah boleh dibatalkan jika ada alasan yang baik.
Islam memberikan kemudahan dalam ibadah selama tidak meninggalkan kewajiban.
Dengan memahami hadis ini, kita dapat melihat bahwa ajaran Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan hubungan sosial dengan sesama manusia.
Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Muhammad suatu hari datang ke rumah Aisyah dan bertanya apakah ada makanan. Ketika dijawab tidak ada, beliau berkata bahwa beliau akan berpuasa.
Pada kesempatan lain, beliau juga datang dalam keadaan sudah berniat puasa sejak pagi, tetapi ketika ada makanan yang diberikan sebagai hadiah, beliau memakannya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa puasa yang dilakukan adalah puasa sunah, bukan puasa wajib.
2. Dalil Bolehnya Niat Puasa Sunah Setelah Subuh
Hadis ini menjadi dasar bahwa:
Puasa sunah boleh diniatkan setelah Subuh, selama seseorang belum melakukan hal yang membatalkan puasa seperti makan atau minum.
Hal ini berbeda dengan puasa wajib seperti puasa Ramadhan yang harus diniatkan sejak malam hari.
Para ulama fiqih menjelaskan bahwa selama seseorang sejak Subuh belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa, maka ia boleh berniat puasa sunah di pagi hari.
3. Bolehnya Membatalkan Puasa Sunah
Hadis ini juga menunjukkan bahwa puasa sunah boleh dibatalkan, terutama jika ada sebab yang baik seperti:
1. menghormati tamu
2. menerima hadiah
3. menjaga hubungan sosial
atau karena kebutuhan tertentu
Ketika Rasulullah SAW mengetahui ada makanan hadiah berupa hais (makanan dari kurma, mentega, dan keju), beliau memilih untuk memakannya meskipun sebelumnya telah berniat puasa.
Hal ini menunjukkan bahwa puasa sunah memiliki kelonggaran dibanding puasa wajib.
4. Hikmah Hadis
Beberapa hikmah yang dapat diambil dari hadis ini antara lain:
1. Kemudahan dalam Syariat Islam
Islam tidak memberatkan umatnya. Puasa sunah diberikan kelonggaran sehingga seseorang dapat menyesuaikan dengan kondisi.
2. Mengutamakan Adab Sosial
Menerima makanan hadiah dan menjaga hubungan baik dengan orang lain juga merupakan nilai penting dalam Islam.
3. Fleksibilitas dalam Ibadah Sunah
Ibadah sunah bersifat melengkapi ibadah wajib, sehingga pelaksanaannya memiliki ruang kelonggaran.
5. Kesimpulan
Hadis ini mengajarkan bahwa:
Puasa sunah boleh diniatkan setelah Subuh selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Puasa sunah boleh dibatalkan jika ada alasan yang baik.
Islam memberikan kemudahan dalam ibadah selama tidak meninggalkan kewajiban.
Dengan memahami hadis ini, kita dapat melihat bahwa ajaran Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan hubungan sosial dengan sesama manusia.